Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Simson Ade Suseno
Subhanallah, Aisyah sebagai salah seorang istri Rasulullah begitu kuat daya ingatnya, menceritakan pengalaman demi pengalaman, kata demi kata tentang Nabi Muhammad tanpa sedikitpun termenung-menung atau berpikir lamaSemuanya diucapkan dengan jelas dan seakan terekam di depan mata.
Apa yang dikatakan oleh Aisyah, kemudian menjadi pedoman kita sebagai umat Nabi Muhammad untuk mengikuti semua yang telah diuraikan secara gamblang, mudah dan sangat masuk logika, tidak nampak sedikitpun cerita yang dibuat-buatSangat tepat memang Rasulullah memilih Aisyah sebagai salah satu istrinya, karena Aisyah yang muda, pikirannya masih jernih dan belum terkontaminasi apapunSelain itu Aisyah juga cerdas sehingga mampu mengingat semua perkataan dan sikap RasulullahDengan kecerdasannya inilah membuat Rasulullah merasa nyaman beristrikan Aisyah, bahkan ketika Rasul sedang sakit parah pun memilih tidur dipangkuan AisyahSungguh bijak Aisyah, walaupun terkadang terlihat seperti manja dan kekanakan namun Aisyah mampu memposisikan diri sebagai istri nabi.
 Usianya yang muda pun membuatnya mampu untuk merawikan hadist, meriwayatkan semua kisah-kisah yang dia mulai bersama Rasulullah selama hampir 30 tahun setelah Rasulullah wafatSungguh waktu yang cukup untuk meriwatkan semua kehidupannya bersama Rasulullah kepada para sahabat dengan jelas, tanpa sedikitpun terlupa.
Anak saya yang laki-laki pernah bertanya, mengapa hadist-hadist banyak diperuntukan bagi kaum laki-lakiLalu dia menjawab karena orang-orang yang bertanya serta sahabat Rasulullah hampir semuanya laki-laki, sehingga yang mereka tanyakan dan diriwayatkan adalah tentang laki-lakiHal itu pun merupakan sebuah pemikiran bagi saya sebagai seorang wanita, apabila kita melihat apa yang Aisyah riwayatkan pada wanitaWalaupun banyaknya hadist mungkin lebih sedikit daripada laki-laki, namun bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan membuat kita masuk syurga, dan bila kita terlalu banyak khawatir, kita sebagai para wanita tidak fokus sehingga tidak mengerjakan apa yang disuruh agama dengan baik dan benar serta fokus.
Subhanallah Islam itu indah, Aisyah telah membantu kita menjalankan keindahan Islam dengan kehadirannya di sisi Rasulullah, dan bila kita melihat mengapa Aisyah adalah satu-satunya istri Rasul yang gadis, jawabannya hanya satu : Rasulullah ingin memberi tauladan bagi umat mengenai rumahtangga yang dicintai AllahBagaimana Rasul bersikap sebagai suami serta bagaimana Aisyah bersikap sebagi istriTentang kehidupan rumah tangga Rasulullah, kemesraan dan kesakinahan hidup berumahtangga beliau, paling banyak dijumpai dalam kisah rumah tangga dengan AsiyahBila saja Aisyah sudah pernah bersuami sebelumnya, bisa jadi cerita mengenai kemesraan tentang wanita dengan suaminya akan terkontaminasi dengan kisah Aisyah sendiri dengan suami sebelumnyaItulah hikmah mengapa Rasulullah menikahi Aisyah yang gadis dan bukan janda, karena belum ada pengalaman dengan suami sebelumnya sehingga cerita Aisyah murni adalah sikap dan keteladanan Rasulullah, dan ternyata memang semua sisi kehidupan sudah diperhitungkan oleh Allah.

Masya Allah!!!
Label: , |
Simson Ade Suseno
Engkau memiliki air mata yang terbatas. Jika air matamu tidak tumpah didunia, maka ia akan tumpah di akherat. Engkau memiliki gudang kesedihan. Jika engkau habiskan di dunia, maka kesedihan akan terhapus dalam ingatanmu di akherat. Dan engkau akan besama orang orang yang tidak sedih dalam menghadapi goncangan yang dasyat. Oleh karena itu, bayarlah harga seluruhnya pada hari ini, karena di sana tidak ada lagi kesempatan tawar menawar.

Habiskan semua air mata dan kesedihan di dunia dengan bekal Dzikrullah…

Bagimana cara berdzikirnya, Ibnu Qayyim berkata, “Pada suatu hari aku berkata kepada Ibnu Taimiyah,” Ada seorang alim yang bertanya, mana yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba, tasbih (Subhanallah) atau Istighfar? Ibnu Taimiyah menjawab , “Jika baju yang sudah bersih, maka kapur barus dan air bunga mawar lebih bermanfaat baginya; jika baju kotor, maka sabun dan air panas lebih bermanfaat baginya.’ Kemudian ia berkata kepadaku, “Namun bagaimana dengan baju baju yang selalu kotor?”

Abdullah ibnu Umar berkata, “Aku menangis karena takut kepada Allah lebih aku sukai daripada aku bersedekah seribu dinar.”

Abul Faraj ibn Jauzi berkata,” Setetes air mata dipipi lebih bermanfaat daripada seribu tetes air hujan di bumi.”
Label: , |
Simson Ade Suseno

Ruhul jihad yang membara di setiap dada para mujahid. Mereka hanya mendambakan upah dari Rabbnya. Surga. Di pelupuk mata para mujahid itu terbayang indahnya janji Allah Azza Wa Jalla, yang sangat menyenangkan. Mereka berlomba mendapatkannya. Siang malam para mujahid berperang melawan orang-orang kafir, tanpa henti-henti. Mereka berlomba menyosong datangya kematian, yang akan membawanya kepada kemuliaan di sisi-Nya.

Akhirnya, daratan Eropa dikenal dengan ‘Balad Syuhada’ (tanah bagi para syuhada), karena banyaknya para mujahid yang syahid di daratan itu. Para mujahid yang gagah dan berani, serta ikhlas, mereka mendambakan janji dari Rabbnya, terus maju, memasuki jantung Eropa, itulah sekelumit kisah para Tabi’in, yang ditulis oleh Abdurrahman Rafat Basya.
Semangat jihad yang belum pernah dalam sejarah penaklukan. Kecuali saat itu. Hampir seluruh daratan Eropa menjadi milik umat Islam. Karena kecermalangan para pemimpinnya, dan ketangguhan para mujahid, yang berperang dengan pasukan Eropa. Mereka memenangkannya. Spanyol dan Perancis telah takluk. Perjuangan mereka terus memasuki daratan Eropa, hingga menjelang Jerman.
Kemenangan pasukan Islam, saat Bani Umayyah dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz. Usai pemakaman pamannya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, dan Umar usai pula membersihkan tangannya dari tanah-tanah, Khalifah yang baru itu, mengganti sejumlah gubernur. Diantara pejabat baru yang dilantik itu, As-Samah bin Malik al-Khaulani yang bertanggung jawab atas seluruh Andalusia, yang sekarang adalah Spanyol, dan beberapa wilayah Perancis.
As-Samah bin Malik al-Khaulani bercita-cita menggambungkan daratan Andalusia (Spanyol) dengan Perancis. Maka, langkah pertama yang dilakukannya menaklukan Norbone, yang dekat dengan Spanyol. Pasukan Islam yang dipimpin Al-Khaulani itu menyisir pegunungan Pyrenees menuju kota Norbonne. Kota ini menjadi kunci untuk memasuki kota-kota Perancis lainnya.
Seperti biasanya pasukan Islam sebelum menaklukan kota itu, memberikan pilihan kepada penduduk, mereka memeluk Islam atau membayar jizyah. Tetapi mereka menolak untuk memeluk Islam dan membayar jizyah. Karena mereka menolak, perang tak dapat dielakkannya, dan kota itu dikepung selama empat pekan, dan akhirnya menyerah, sesudah terjadi pertempuran yang sangat dahsyat yang belum pernah terjadi di sepanjang sejarah Eropa.
Sasaran berikutnya adalah Toulouse, yang menjadi ibukota Octania. Pasukan Islam yang sudah berada di dekat wilayah itu, masuk dengan menggunakan senjata yang belum pernah mereke kenal, dan hampir kota jatuh ke tangan muslimin, tetapi terjadi peristiwa yang menghambat kemenangan.
Tatkala itu, Raja Octania yang mengunjungi para raja-raja di seluruh Eropa, mengajak mereka bergabung menghadapi pasukan Islam, yang dipimpin Al-Khaulani, yang sudah berada diambang pintu, dan mengancam Octania. Berkumpullah pasukan Salib yang berjumlah sangat besar. Untuk mengambarkan itu, sampai seorang sejarawan mengatakan, betapa gemuruh pasukan Salib itu, hingga debu-debu yang mengepul menutupi kota Rhone, siang yang terang oleh matahari itu, menjadi gelap akibat debu, dari kaki-kaki pasukan Raja Octania.
Perang yang tak terelakkan. Gemuruh perang begitu dahsyat. Dua pasukan bertemu, dan As-Samah bin Malik Al-Khaulani selalu berada di garis depan. Pada pertempuran yang sangat dahsyat itu, As-Samah terkena panah, dan robohnya panglima tertinggi yang perkasa itu, dan menemui syahidnya.
Saat terdengar panglimanya As-Samah gugur, pauskan Islam menjadi kocar-kacir, di saat itu pula, tampil, seorang generasi tabi’in, yang ada, mengambil alih kepeimpian dari As-Samah, yang tangguh dan disegani bernama Abdurrahman al-Ghafiqi. Dengan lahirnya panglima perang yang baru itu, berhasil di selamatkan pasukan Islam, yang mengalami kepanikan itu. Mereka yang tercerai-berai.
Abdurrahman Al-Ghafiqi itu mempunyai cita-cita yang sama dengan tokoh-tokoh Islam lainnya, seperti Musa bin Nushair hingga As-Samah bin Malik Al-Khaulani, yang ingin menaklukkan Spanyol, Perancis, Italia, Jerman, hingga Konstantinopel. Dan, Abdurrahman yakin akan dapat mewujudkan impiannya itu.
Suatu senja Abdurrahman Al-Ghafiqi mengundang seorang dzimmi keturunan Perancis yang terikat dengan perjanjian. Lalu, Abdurrahman bertanya, “Mengapa raja kalian, Carll tidak turun untuk membantu raja-raja lainnya yang berperang dengan kami?”, tanya Al-Ghafiqi. “Wahai gubernur, anda telah menepati janji kami. Anda berhak kami percayai”, ucap seorang dzimmi itu.
Musa bin Nushair telah berhasil menaklukkan Spanyol. Kemudian ingin melanjutkan perluasan wilayahnya sampai menjangkau Perancis, melewati Pyerennes. Perjuangan itu berlanjut, yang akan menentukan masa depan Islam di daratan Eropa.
Sebuah dialog raja-raja kecil dengan Maha Raja, yang mempunyai pengaruh di daratan Eropa, dan dia berkata, “Masalah ini sudah saya pikirkan secara mendalam dan saya mengira untuk saat ini tidak perlu menghadapi mereka secara langsung.Mereka orang-orang yang bermental baja. Mereka kaum yang memiliki aqidah yang kokoh, sehingga tak menghiraukan jumlah dan senjata. Mereka mempunyai iman dan kejujuran yangjauh lebih berharga dibandingkan senjata, pakaian perang atau kuda. Karena itu, lebih baik kita membiarkan mereka, kaum muslimin terus menumpuk harta dan ghanimah, lalu membangun rumah dan gedung –gedung serta melipatgandakan jumlah budak laki-laki dan perempuan dan lihatlah, mereka akan berebut kekuasaan. Pada saat itu itu kita bisa menaklukan mereka dengan mudah tanpa banyak pengorbanan”, ucap Maha Raja itu.
Mendengar dialog itu, Abdurrahman Al-Ghafiqi sangat terkejut. Betapa, beliau sudah mengelilingi kota-kota dan desa-desa di wilayah Andalusia, dan mendidik mereka dengan iman, tetapi Maha Raja itu, masih dapat mengatakan akan mengalahkannya, hanya akibat umat Islam terlena oleh banyaknya ghanimah.
Tetapi, sejarah menyatakan, dan inilahnya pahitnya kehidupan, yang tak dapat ditolak oleh siapapun, perjalanan kehidupan kaum muslimin selalu ada orang-orang yang terlena oleh kehidupan dunia. Ini terjadi yang tidak dapat dipungkiri. Seandainya bukan harta dan kehidupan duniawi, daratan Eropa sudah menjadi negeri-negeri muslim.
Pengkhianatan itu, pertama terjadi oleh Utsman bin Abi Nus’ah, amir penjaga perbatasan yang dipercaya oleh panglima perang Abdurrahman Al-Ghafiqi. Padahal, ia dipercaya untuk memimpin pasukan inti diperbatasan untuk menghadapi musuh. Tetapi, pilihan Abdurrahman itu keliru, dan orang yang dipercaya itu, berkhianat, dan karena ambisinya itu, dan lalu menculik puteri Raja Octania, yang bernama Minnin. Minnin terkenal sangat jelita, berdarah bangsawan, masih belia, dan sebagai penghuni istana. Puteri Minnin inilah yang membuat Utsman bin Abi Nus’ah tergila-gila.
Utsman bin Abi Nus’ah yang dipercaya oleh Abdurrahman Al-Ghafiqi , akibat sudah tergila-gila dengan kecantikan puteri Minnin, kemudian ia membuat perjanjian perdamaian dengan Raja Octania. Dan, Utsman memberi jaminan keamanan kepada Raja Octania.
Begitulah, ketika datang perintah untuk menyerbu wilayah Octania, maka Utsman bin Abi Nus’ah menjadi bimbang untuk melaksanakannya. Kabar yang sampai ke telinga Abdurrahman Al-Ghafiqi menjadi sangat marah, akibat pengkhiatan yang dilakukan oleh Utsman. “Perjanjian yang anda lakukan yang anda lakukan tidak sah, maka tidak ada keharusan prajurit Islam mentaatinya”, ujar Abdurrahman.
Selanjutnya, panglima perang Islam, itu mengirimkan pasukan untuk menangkap pengkhianat Utsman bin Abi Nus’ah. Pasukan yang diutus itu berhasil menaklukan dengan pertempuran diatas gunung, dan Utsman bin Nus’ah dengan berbagai tusukan pedang. Sedangkan Minnin, puteri Raja Octania itu tertangkap, kemudian di kirim ke Damaskus. Saat melihat puteri Minnin itu, Abdurrahman Al-Ghafiqi memalingkan wajahnya, karena puteri itu terlalu cantik.
Perang terus berkecamuk memperebutkan wilayah Perancis, yang luas, dan pasukan berhasil menguasai kota-kota penting. Raja Octania yang lolos itu, kembali berperang dengan jumlah pasukan yang lebih besar. Kemenangan oleh pasukan Islam, memasuki wilayah Perancis, seperti Lyon, Boerdeaux, yang merupakan pintu masuk yang sangat penting mengausai Perancis, dan hanya seratus mil lagi masuk kota Paris. Dunia Eropa sangat tersentak melihat Perancis selatan telah dikuasai pasukan Islam yang dipimpin Abdurrahman al-Ghafiqi.
Ghanimah begitu melimpah. Bangunan tenda-tenda yang besar- besar sudah tidak dapat menampung lagi ghanimah dari haisl peperangan itu. Tetapi, panglima perang Abdurrahman Al-Ghafiqi terus bertempur dengan gagah berani, menyapu pasukan Salib, yang ingin mencoba mengahalanginya. Dan, akhirnya kota Tours, kota Perancis yang sangat indah, penuh dengan bangunan tua yang sangat indah dan menyimpan berbagai benda yang berharga.
Ketika itu, saat bulan Sya’ban 104 Hijriyah Abdurrahman Al-Ghafiqi bersama pasukan yang perkasa memasuki kota Poiters. Mereka disambut oleh pasukan besar Eropa yang dipimpin oleh Karel Martel. Perang yang amat dahsyat antara kedua belah pihak, yang kemudian dikenal dengan : Balad Syuhada’. Karena banyaknya para syuhada yang gugur dimedan perang ini.
Saat inilah pasukan Islam mulai terpecah konsentrasinya, apalagi Karl Martel menyiasati dengan melalui belakang menyerang tempat-tempat penyimpanan ghonimah, tenda-tenda yang ada di tempat padang yang sangat luas itu dibakar oleh pasukan Karel Martel.
Sungguh sangat getir, ketika itu pasukan Islam dalam puncak kejayaannya, punggung-punggung pasukan Islam sudah terlalu berat dengan beban ghanimah, yang memberatkan gerak langkah mereka. Mereka tergoda dengan ghanimah, yang menyebabkan melupakan tujuan mereka yang ingin mendapatkan kejayaan Islam, dan kemuliaan di sisi-Nya. Di saat itu pula, tiba-tiba panglima perang Abdurrahman Al-Ghafiqi tewas terkena panah.

Inilah menandakan akhir dari satu episode perjuangan yang penuh dengan kemenangan, akhirnya harus kandas, karena godaan duniawi. Andai kata mereka tidak tergoda oleh duniawi, mungkin sekarang seluruh daratan Eropa sudah menjadi milik kaum muslimin, sehingga pemeluknya bebas melaksanakan syariah-Nya. Tapi, Allah memberikan ujian kepada kaum muslimin, dan gagal, menghadapi ujian itu. Wallahu’alam. (Mh)
Label: , , |
Simson Ade Suseno
Alangkah indahnya bangunan itu, fondasinya kokoh, tiang-tiangnya tinggi kuat, atapnya luas, jendelanya besar menawan, menyita perhatian setiap orang yang melihatnya. Sungguh serasi dan saling menguatkan. Itulah bangunan masyarakat muslim bagaikan bangunan yang kokoh masing-masing bagian saling menguatkan antara satu dan lainnya.

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya)”. (HR. Bukhari, Muslim)

Musibah seorang mukmin adalah musibah bagi semua orang yang beriman, mereka bersaudara dalam balutan kasih sayang, saling membantu, saling mengingatkan saling meringankan beban yang lainnya. Peduli atas penderitaan sesama, berusaha mengangkat saudaranya dari kubangan masalah, membantunya bangkit, berdiri dan melangkahkan kakinya agar kelak bisa berlari bersama lagi memikul beban dakwah yang tidak ringan.

Orang-orang yang beriman bagaikan satu jasad yang tak akan bisa tidur nyenyak apabila ada anggota tubuhnya yang sakit. Kakipun melangkah walau terasa penat, tanganpun bergerak mecari obat agar rasa pening itu pergi meninggalkan kepala. Rasulullah bersabda:

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur”. (HR. Bukhari, Muslim)

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menipunya, tidak memperdayanya dan tidak meremehkannya”. (HR. Muslim)

Suatu hari Ibnu Syubrumah membantu seseorang menyelesaikan permasalahan besar yang dihadapinya. Orang itupun datang membawa hadiah.

Ibnu Syubrumah berkata: “Apa ini?”

Dia menjawab: “Balasan atas jasamu dalam membantu kesulitanku”
Beliau berkata: “ambillah uangmu, semoga Allah mengampunimu. Jika engkau meminta tolong kepada saudaramu untuk membantu menyelesaikan kesulitanmu lalu dia tidak bekerja keras membantumu maka ambillah wudhu, shalatlah dengan empat takbir (shalat jenazah) dan masukkanlah dia ke dalam golongan orang-orang mati. Orang yang tidak mau mebantu menyelesaikan masalah saudaranya seiman dia adalah orang mati karena tidak ada kebaikan dalam dirinya”.

Subhanallah, nasehat yang amat menyentuh, obat mujarrab bagi masyarakat muslim dalam zaman modern ini yang telah ternodai dengan nilai-nilai materialisme. Nasehat beliau bagaikan tetesan air hujan di masa kemarau panjang yang menumbuhkan kesadaran kita bahwa nilai ukhuwah di atas semua sekat-sekat duniawi. Seringkali setan menggoda kita dengan beribu macam alasan agar tidak peduli dengan keadaaan saudara kita, khususnya alasan klasik: “itu kan kesalahn dia”. “salahnya sendiri” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang berasal dari bisikan setan.

Mari kita renungkan sabda Rasulullah:
“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah, jika dia membenci salah satu perangainya, niscaya dia akan ridha dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim)

Tidak ada sosok manusia yang sempurna di muka bumi ini, kelemahan seseorang adalah kewajiban bagi kita sesama mukmin untuk menutupunyi agar menjadi bangunan yang kokoh. Bukan mengekspos kelemahan itu karena kelak akan menghancurkan bangunan yang susah payah kita bangun.

Untuk meraih cinta Allah tak cukup hanya dengan kesolehan pribadi kita juga harus menggapainya dengan kesolehan sosial, mari kita renungkan kisah berikut:

seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahualaihiwassalam dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah Shallallahualaihiwassalam menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani, disohihkan syeh Al Bani dalam silsilah sohihah)

MUTIARA ULAMA SALAF
Dalam sejarah kehidupan orang soleh terdahulu terdapat banyak contoh nyata bagi kita dalam membantu saudara seiman menyelesaikan berbagai macam problematika hidupnya. Berikut sebagian sejarah itu:
Abu bakar as shiddiq biasa memerahkan susu bagi penduduk desa, saat beliau diangkat menjadi kholifah seorang wanita berkata: “sekarang beliau tidak akan memerahkan lagi untuk kita” abu bakar berkata: “Tidak, saya berharap jabatan ini tidak akan mengubah perbuatan baik yang biasa aku lakukan sebelumnya”.
Umar bin Khottab biasa membantu beberapa janda mengambilkan air untuk mereka di malam hari. Pada suatu malam Tolhah melihat Umar masuk ke salah satu rumah wanita. Keesokan harinya Tolhah masuk ke rumah tersebut, ternyata di dalamnya ada seorang wanita tua dan buta. Tolhah bertanya: “apa yang dilakukan laki-laki itu tadi malam?”

Wanita itu menjawab: “Dia sudah lama membantu saya, membawakan kebutuhan saya dan mejauhkan kotoran dan penyakit”

Tolhah berkata: “Sungguh engkau telah memberatkan ibumu wahai Tolhah. Apakah engkau hendak mencari-cari kesalahan Umar?”

Abu Wail setiap hari keliling kampung membantu para wanita dan orang-orang lanjut usia, membeli kebutuhan mereka dan keperluannya.

mujahid berkata: “Saya menemani Ibnu Umar dalam sebuah perjalanan untuk membantu beliau tapi ternyata beliau malah lebih banyak membantu saya”.

Hakim bin Hizam selalu sedih atas hari di mana beliau tidak mendapatkan seseorang yang bisa beliau bantu menunaikan keperluannya. Beliau berkata: “Kalau saya memasuki waktu pagi tanpa menemui orang lemah yang bisa kubantu di depan pintu rumaku maka aku sadar kalau itu adalah musibah yang ditimpakan Allah kepadaku. Semoga Allah akan memberikan pahala bagiku di dalamnya”. (LR/ Berbagai sumber)
Label: , , |
Simson Ade Suseno
“..kalau saja saya memiliki kewenangan, tentulah aku akan mengangkat Al Qasim bin Muhammad sebagai khalifah..” (umar bin Abdul Azis)
Pernahkan anda mengetahui tentang Al Qasim bin Muhammad bin abu Bakar Ash-Shidiq ? Dia adalah salah satu dari tujuh Fuqaha Madinah yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya dan paling bagus sifat wara. Beliau lahir pada masa khilafah Utsman Bin Affan. Ayahanda beliau adalah Muhammad bin Abu Bakar Ash –Shidiq. Ibunya adalah putri Yazdajir dari raja Persia yang terakhir, sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah, Ummul Mukminin.

Seiring dengan tumbuh berkembangnya , badai fitnah sedang menimpa kaum muslimin saat itu. Hingga mengakibatkan terbunuhnya khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Utsman bin Affan sebagai syuhada, sedangkan Mushaf Al Qur’an berada dalam dekapannya.

Tak lama setelah itu muncul sengketa besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a dengan Mu’awiyah bin Abu Sofyan bin harb, seorang gubernur untuk wilayah Syam.

Dalam rangkaian keadaan genting dan peristiwa-peristiwa yang mencekam itu, anak ini bersama adik perempuannya dibawa dari Madinah ke Mesir menyusul kedua orang tuanya . Ayahnya diangkat menjadi gubernur Mesir oleh Khalifah Ali Bin Abi Thalib.

Di kota ini, dia pun harus menyaksikan cakar-cakar fitnah yang mencengkram sampai akhirnya ayah beliau tewas dengan cara yang keji. Selanjutnya ia pulang lagi ke Madinah setelah kekuasaan dipegang oleh Mu’awiyah. Setibanya di madinah bibinya, Aisyah binti Abu Bakar, ummul Mukminin, mengutus seseorang untuk mengambil dia dan adiknya untuk dibawa kerumahnya dan dipelihara di bawah pengawasannya.

Al Qasim menuturkan kisahnya yang penuh keprihatinan itu , “ ternyata belum pernah aku menjumpai seorang ibu dan ayah yang lebih besar kasih sayangnya daripada beliau (Aisyah ra). Beliau menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami. Bila tersisa makanan dari kami , barulah beliau memakannya. Beliau mengasihi kami seperti seorang ibu yang masih menyusui bayinya. Beliau yang memandikan kami, menyisiri rambut kami , memberi pakaian yang putih bersih . Beliau senantiasa mendorong kami untuk berbuat baik dan melatih kami dengan keteladanannya langsung. Beliau juga yang mengajar kami membaca Kitabullah dan meriwayatkan hadits-hadits yang bisa kami pahami. Di hari Raya bertambahlah kasih sayangnya kepada kami dengan memberi hadiah-hadiahnya untuk kami dan menyediakan daging Udhiyyah.

Suatu hari beliau memakaikan baju warna putih dan mendudukkan kami dipangkuannya . Paman Abdurrahnmaan kemudian datang atas undangannya. Lalu Bibi Aisyah mulai berkata dengan pujiannya kepada Allah SWT. Sungguh aku belum pernah sebelum dan sesudahnya baik laki-laki ataupun perempuan yang berkata kepada paman : “ Wahai saudaraku,” Aku melihat sepertinya anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan mengasuh anak ini, demi Allah saya melakukannya bukan karena lancang kepada Anda dan bukan pula karena menaruh sangka buruk kepada Anda, Hanya saja anda memiliki istri lebih dari satu , sedangkan kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan istri-istrimu. Sehingga saya merasa lebih berhak umtuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya telah beranjak dewasa dan mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda”.. Begitulah akhirnya paman Abdurrahman membawa kami ke rumahnya.

Kenangan kami akan bibi Aisyah masih terus melekat. Kami rindu pula kepada rumah nya , pada lantai rumahnya yang bercampur dengan kesejukan nubuwat. Lingkungan yang sejuk itu menghidupkan sanubari selama hayatnya. Sehingga ia sering membagi waktu antara rumah bibi dan pamannya. Kesan-kesannya sangat dalam seperti berikut ini : Suatu hari aku berkata kepada bibi Aisyah : “ Wahai Ibu tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad dan kedua sahabatnya, aku ingin sekali melihatnya ..”Tiga kubur itu berada dalam rumahnya , ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan.

Diperlihatkannya tiga buah makam yang tidak digundukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi kerikikl merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid. Saya bertanya” Yang mana makam Rasulullah?” Beliau menunjuk sambil menetes air mata di pipinya yang segera disekanya agar aku tidak melihatnya. Makam Nabi itu agak lebih menonjol tempatnya dibanding dua sahabatnya.

Saya bertanya lagi mana makam kakekku ? Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata, ”yang ini” , kulihat makam kakekku sejajar dengan letak bahu Rasulullah “Yang ini makam Umar ?” beliau menjawab “ Benar”. Kulihat letak kepala Umar sejajar dengan jari-jari kakekku dengan segaris kaki Nabi.

Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal seluruh juz Kitabullah dan menimba hadits-hadits dari bibinya Aisyah r.a sebanyak yang dikehendaki Allah. Al Qasim yang sudah menjadi pemuda ini juga seingkali duduk di majelisnya Abu Hurairahh , Abdullah bin Umar , Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair , Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Kabab, Rafi’ bin Khudaij dan Aslam pembantu Umar Bin Khatab, dsb.

Hingga pada gilirannya ia kemudian menjadi manusia yang pandai dalam hal As Sunnah pada zamannya dimana ketika seeorang belumlah dianggap sebagai tokoh sebelum dia mendalami sunnah-sunnah Rasulullah. Setelah sempurna perlengkapan ilmunya , orang-orang banyak belajar kepada cucu Abu Bakar ini. Sementara beliau memberikan ilmunya tanpa pamrih atau jual mahal. Beliau tak pernah absen untuk pergi ke Masjid Nabawi setiap hari lalu shalat dua rakaat kemudian duduk di bekas tempat Umar ra di Raudhah. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala penjuru untuk menimba ilmu dari sumbernya yang segar dan bersih , melegakan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu.

Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Al Qasim bin Muhammad dan putra bibinya Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya, didengar tutur katanya dan ditaati kendati keduanya tidak memiliki wilayah kekuasaan ataupun jabatan. Masyarakat mengangkat keduanya karena ilmunya, sikap wara’ dan takwanya dan karena sikap zuhudnya terhadap apa-apa yang dimiliki oleh manusia dan hanya berharap terhadap apa-apa yang disisi Allah. Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayyah pun dan bawahannya hormat padanya. Penguasa-penguasa tersebut pun bahkan tidak pernah memutuskan masalah yang pelik kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua fuqaha ini.

Sebagai contoh ketika Al Walid bin Mabdul Malik berkeinginan untuk memperluas Al Haram Nabawi yang mulia. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tanpa membongkar masjid yang lama pada keempat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi SAW untuk perluasan. Persoalan ini akan berpotensi menimbulkan konflik diantara kaum muslimin dan menyakiti perasaan mereka . Maka khalifah menulis surat kepada Umar bin Abdul Azis , wali Madinah.

Dengan segera Gubernur Madinah Umar bin Abdul Azis mengundang Al Qasim bin Muhammad dan Salim Bin Abdullah bin Umar dan para pemuka kaum muslimin Madinah. Kepada mereka dibacakan surat perintah khalifah yang baru saja diterima. Ternyata mereka gembira dengan apa yang direncanakan oleh Amirul Mukminin dan siap sedia mendukung rencana tersebut. Demi melihat imam-imam dan ulama mereka turun tangan sendiri melaksanakan pemugaran masjid, penduduk Madinah secara serentak turut membantu dan melaksanakan sebagaimana yang dimohonkan dalam surat Amirul Mukminin kepada Gubernur Madinah untuk melibatkan keturunan Umar bin Khatab dan Abu Bakr membantu penyelesaian masalah ini. Bahkan bantuan Kaiasar Romawi yang menyumbang perluasan mesjid Nabawi dengan 100 kg emas murni pun diterima setelah Umar bin Abdul Azis bermusyawarah dengan Qasim bin Muhammad.

Alangkah miripnya Al Qasim dengan kakeknya Abu Bakar Ash Shidiq, sampai-sampai orang berkomentar, ” Tidak ada anak keturunan Abu Bakar yang lebih mirip dengan beliau daripada Al Qasim , Dia begitu serupa dalam akhlak, bentuk fisik keteguhan iman dan kezuhudannya ..: sebagai contoh ketika ada orang dusun datang ke masjid lalu bertanya kepada beliau “ Siapakah yang lebih pandai , anda ataukah Salim bin Abdullah ?” Al Qasim berpura-pura sibuk sehingga si penanya mengulangi pertanyaannya . Beliau menjawab”” Subhanallah”.

Begitupula ketika ada tuduhan bahwa beliau mengambil jatah pembagian harta sedekah. Ada satu orang yang tidak puas dengan pembagiannya dan mendatangi beliau di masjid yang ketika itu beliau sedang sholat. Putra Al Qasim yang jengkel dan kemudian melakukan pembelaan kepada ayahnya berkata,” Demi Allah engkau telah melemparkan tuduhan terhadap orang yang tidak sepersen pun mengambil bagian dari harta sedekah itu dan tidak makan walau sebutir kurma” . Setelah menyelesaikan shalatnya , Al Qasim berkata kepada putranya “ Wahai putraku, ..mulai hari ini janganlah engkau bicara tentang masalah yang tiada engkau ketahui…” Orang-orang berkata, apa yang dibela oleh anaknya adalah benar, namun Al Qasim ingin agar putranya menjaga lidah dalam mencampuri urusan orang lain. Al Qasim pun sebagai ulama besar adakalanya tak jarang mengatakan, ”aku tidak tahu…aku tidak tahu..” . Ketika orang-orang bertanya kepadanya tentang sesuatu yang memang beliau belum nengetahui permasalahannya.

Al Qasim hidup sampai usia 72 tahun dan wafat dalam perjalanannya ketika menuju haji ke Mekah. Ketika beliau merasa ajalnya telah dekat,beliau berpesan kepada putranya,” Bila aku mati , kafanilah aku dengan pakaian yang aku pakai untuk shalat. Ghamisku, kainku dan surbanku. Seperti itulah kafan kakekmu , Abu Bakar Ash Shidiq. Kemudian ratakanlah makamku dan segera kembali kepada keluargamu. Jangan engkau berdiri di atas kuburanku seraya berkata “ Dia dulu begini dan begitu…karena aku bukan apa-apa.” 
(LR/ Berbagai sumber)
Label: , , |
Simson Ade Suseno
Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah1 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah S.a.w. berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersama-sama denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Ra., “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah S.a.w. mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Ra. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,

“Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti ,Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil, Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah ,Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil”
Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah.

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”

AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”

Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan nafas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..BiIal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.

literatur : islam2u.net
Label: , |
Simson Ade Suseno
"Ssesungguh nya ALLAH tidak akan mengampuni dosa jika di dipersekutukan
dengan yang lain,dandia mengampuni segala dosa yg selain dari ( sirik) itu
bagi siapa yg di khendakinya bagi siapa yg memper sekutukan Allah,maka
sesungguh nya ia telah berbuat dosa yang teramat besar(An-nisa:48)"


Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa menyekutukan Allah merupakan dosa yg besar dan tidak akan di ampuni oleh Allah swt,sebab perbuatan sirik itu sangat tidak mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Allah,berbuat sirik berarti mengakui adanya kekuatandan kebesaran tuhan lain selain Allah.

Ada sebuah kisah yg terjadi di jaman khalifah umar bin khatab,berkenaan dengan kemusrikan yg berkembang di kalangan bangsa arab mesir pada masa itu,kebiasaan masarakat mesir pada waktu itu sering memberikan persembahan,ketika sungai nil kering,merupakan bentuk kemusrikan yg meraja lela,melihat fenomena kemusrikan yg mewabah,gubernur rmesir berusaha dengan sekuat tenaga untuk membasmi kebiasaan yg bertentangan dengan syariat islam.pada zaman dahulu rakyat mesir masih menganut kepercayaan nenek moyang mereka yg sudah turuntemurun dan menyesatkan,syirik merupakan prilaku yg sudah berwujud di seluruh plosok negri.

diantara kepercayaan mereka yg sudah turun temurun adalah bahwa setiap dalam setiap tahun,sungai nil selalu minta korban atau persembahan,yg apabila tidak di penuhi akan mengakibat kan sungai nil menjadi kering haltersebut membuat masarakat mesir menjadi resah dan susah,oleh sebab itu dalam setiap tahun penduduk selalu mencari-cari seorang perempuan yg masih perawan,untuk dikorbankan.anakgadis tersebut diceburkan kesungai nil sebagai persembahan untuk para dewa,menurut kepercayaan mereka hanya dengan begitu,air sungai nil akan selalu mengalir dengan lancar.kepercayaan tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya

Masuknya islam,tidak dengan sendirinya menghapus kepercayaanter sesat yg beredar di mesir itu.Amrubin"ash sebagai gubernur pada masaitu sempat merasa bingung memikirkan hal tersebut,lebih-lebih tidak lama lagi akan di adakan korban untuk para dewa di sungai nil.gubernur Arubin"ash yg biasanya cerdik kini tak tau harus berbuat apa.ia benar-benar tak menemukan jalan keluar "Apa yg harus aku lakukan?upacara sesat itu harus tidak boleh terjadi,dan tidak boleh ada lagi setelah hari ini tapi bagai mana caranya meyakinkan msyarakat mesir yg sangat percaya dangan takhayul semacam itu sejak dari nenek moyang mereka?"Amru bertanya-tanya sambil berpikir keras.

Panglima perang ini tidak juga menemukan jawaban yg berarti.semakin dekat waktu upacara yg telah ditentukanitu maka Amrubin"ash semakin gelisah hatinya."Ah....aku harus segera memberitahu khalifah umar sekaligus memint pendapat nya!"katahati nya sendiri dan hanya itu yg dapat menentramkan hati nay sendiri.Tanpa membuang-buang waktu lagi amru lalu menulis surat kepada khalifah umar yg berbunyi:

bismillahirarahmannirrahim
kepada Amirulmukminin,umar bin khatab,dari amru bin"ash,gubernur mesir dengan surat ini aku sampaikan berita yg sangat penting sehubungan dengan kepercayaan sesat yg dianut oleh rakyat mesir.setiap tahun mereka mengorbankan seorang perawan bgi para dewa di sungai nil untuk tahun ini,upacara tersebut akan di langsungkan dalam beberapa hari lagi,aku tak kuasa mencegah kepercayaan mereka karna telah berakar dari nenek moyang mereka dahulu.demiAllah,aku menanti balasan dari anda tentang apa yg harus aku lakukan sehubungan dengan hal tersebut.
wasalamualikum

Demikianlah isi surat gubernur amru bin"ash yg segera dikirimnya kepada khalifah umar ra.
Setelah beberapa waktu menunggu surat balasan dan pelaksanaan upacara akan segera di mulai,tiba-tiba utusan amru datang dengan membawa sepucuk surat dari khlifah umar
Pada saat itu sang utusan langsung menemui gubernur,padahal sang gubernur dan para penduduk sedang duduk berkumpul di pinggir sungai nil.gubernur Amru sengaja menahan para penduudk untuk melaksanakan persembahan dan menunggu sampai surat khalifah datang,begitu smapai ditangan sang gubernur maka sang gubernur langsung mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa khalifah umar melalui utusan nya telah memberikan surat kepada gubernur,maka gubernur meminta khalayak untuk menunda kegiatan apa pun yg berkaitan dengan upacara persembahan tersebut,lalu gubernur bersiap-siap untuk membacakan surat tersebut.sementara para penduduk tenang sejenak menunggu gubernur selesai membacakan surat tersebut.

Bismilahirrahmanirrahim
Dari umar,amirul mukminin kepada amru bin"ash,gubernur mesirtelah akuterima suratmu,dan segera aku menjawabnya.bersama surat ini,akusertakan surat lain yg aku minta engkau hanyutkan kedalam sungai nil.katakan pada penduduk untuk menunda upacara mereka.cepat laksanakan dan jangan sampai upacara sesat ini terus berlanjut.Allah beserta kita.
wasalamualaikum.

Demikian surat umar untuk amru bin"ash.
selesai membaca surat surat untuk diri nya amru membuka lembaran kedua

Bismilahirrahmanirrahim
Dari umar amirul mukminin untuk sungai nil.
Apabila kamu mengalir karna kemauan mu sendiri,maka tak usah lah engkau mengalir untuk selamalamanya,namun apabila engkau mengalir karna Allah maka aku mohon kepada Allah untuk mengalirkanmu.
wasalamualikum

setelah membaca surat yg kedua sang gubernur pun tak habis pikir membaca isi surat sang khalifah.akan tetapi sebagai seorang gubernur dan mengenal akan ketegasan sang khalifah umar,maka ia tetap melaksanakan perintah pimpinanya setelah itu,beliau langsung berseru kepada para penduduk mesir"wahai rakyat mesir,kethuilah bahwa aku baru saja menerima surat dari amirul mukminin umar bin khatab.khalifah memerintahkan untuk tidak melakukan upacara persembahan tersebut,dan aku di perintah kan untuk melempar surat ini kedalam sungai nil.sekarang saksikanlah bahwa aku telah melaksanakan perintah khalifah!" dan disaksikan penduduk mesir,akhirnya sang gubernur melempar surat tersebut kedalam sungai nil.

Namun tak seorangpun mau pulang ke rumah nya.sebagian dari mereka tetapmenunggu di tepi sungai nil.sapai pada tengah malam,terdengar orang berteriak"Nil telah mengalir.airnya telah naik kembali..!
begitu suara tersebut terdengar berulang-ulang, legalah hati penduduk dan hati umat islam.sejak hari itu tak ada lagi persembahan anak perawan untuk sungai nil.berangsur-angsur rakyat mesir menganut ajaran islam secara tauhid dan murni.
Label: , |
Simson Ade Suseno
wahai kekasih...wahai kekasih,
tidak kuat aku menahan kerinduan ini
tiada sabar aku untuk berjumpa denganmu
tiada kuasa aku untuk menggapaimu

wahai kekasih...wahai pujaan hati,
kegilaanku akan dirimu semakin menjadi

wahai kekasih...wahai dambaan hati,
aku sebut selalu namamu dan kupatri dalam hatiku

Musafir yang tadi siang membangunkannya, rupanya sedang mengamati dari kejauhan segala apa yang telah diperbuat Hamdun. tidak percaya pada Hamdun yang syair-syairnya berisikan kalimat-kalimat cinta yang indah. tidak percaya bahwa Hamdun adalah seorang yang gila. karena rasa penasaran pada apa yang telah Hamdun perbuat tadi siang padanya, iapun berjalan mendekati Hamdun. dan memberi salam, "assalamu'alaikum, wahai Hamdun...".

Hamdun menoleh dan membalas salamnya, "'alaikumussalam...".

"sedang apakah engkau disini seorang diri?", tanya musafir
"aku sedang memuji kekasihku...", jawabnya, "apakah keperluanmu malam begini berada disini?"
"aku sedang memperhatikanmu dari kejauhan..", jelasnya.
"tidak adakah pekerjaan yang bermanfaat bagimu selain memperhatikanku dalam bersyair..", tanya Hamdun lagi. "aku hanya berpikir tentang isi dari syair indah yang engkau dendangkan, wahai Hamdun", jawabnya.
 
 "mengapa engkau tidak sholat menyembah tuhanmu?", tanya Hamdun sambil berdiri "aku penasaran akan kata-katamu tadi siang yang membuat aku berpikir panjang dengan segala yang kau ucapkan. maukah engkau memberiku penjelasan dimana tuhan itu berada?", mohon musafir itu pada Hamdun "selama ini engkau menyembahnya tetapi engkau sama sekali tidak tahu dimana ia berada. sungguh sia-sia segala apa yang engkau kerjakan itu, wahai musafir..", jelasnya, "tuhan itu banyak..dan jangan sekali-kali lagi engkau berkata menyembah tuhan. karena engkau akan berada dalam kesesatan. engkau pasti bertanya mengapa aku tidak bertuhan dan mengapa tidak beragama, bukan?". musafir itu menganggukkan kepala. "aku tidak menyembah tuhan tetapi aku menyembah sang kekasih, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'ala. mengapa aku mengatakan tidak beragama karena Allah tidak lagi memberatkannya padaku. karena aku telah menjadi kekasihNya.

apapun yang Dia pilihkan padaku, itulah yang terbaik buatku. walau neraka yang diinginkanNya untukku, aku bersedia masuk kedalamnya dengan cinta kasihNya. untuk apa aku memilih sorga bila tidak bisa menjadi kekasihNya dan tidak bisa berjumpa serta melihat keindahan wajahNya yang Maha Indah itu. aku ikhlas menerima kegilaanku karena ingin selalu bercinta denganNya. inilah kehendak yang Dia inginkan buat kebaikanku. inilah kesucian cinta yang Dia inginkan dariku", katanya menjelaskan pada musafir itu.

"astaghfirullah ... Maha Suci Engkau, Ya Allah, dari segala prasangka buruk hambamu..", mohonnya pada Allah setelah mendengarkan penjelasan dari Hamdun, "tapi mengapa sewaktu aku menyuruhmu sholat tadi siang engkau menolak?", lanjutnya. "apakah setiap perbuatan selalu harus aku pamerkan kepada semua manusia?

apakah engkau mengetahui kapan aku sholat tadi siang?", balik Hamdun bertanya. "tidak..", jawabnya. "sesungguhnya amal yang baik adalah bila tangan kanan bersedekah tidak diketahui oleh tangan kirinya. janganlah engkau pamerkan segala amal yang engkau lakukan karena itu semua akan menjauhkanmu dari Allah. engkau akan memakan puji-pujian orang lalu engkau akan menjadi riya' karenanya. bukankah tidak jauh dari daerah ini ada sebuah hutan? aku pergi kesana untuk melaksanakan sholat dan meninggalkan tubuhku tetap terbaring dalam nyenyaknya tidur. agar orang melihat apa yang aku perbuat. dan tetap seperti
itu pandangan mereka", Hamdun menjelaskan.

"lalu dengan apakah caranya engkau sholat bila tubuhmu engkau biarkan terbaring dalam nyenyaknya tidur di depan masjid ini?", rasa ingin tahu musafir itu semakin menjadi. "aku memakai tubuh kekasihku. Yang Maha Dhohir dan Maha Bathin", jawab Hamdun dan lanjutnya lagi, "besok siang, setelah sholat dhuhur lihatlah tubuhku yang berbaring nyenyak di depan masjid. jangan sekali-kali engkau ganggu tidurku. lalu pergilah engkau ke hutan sana"

"baiklah..aku akan menuruti perkataanmu", musafir itu menyetujui permintaan Hamdun.
setelah memberi salam, iapun bergi meninggalkan Hamdun yang mulai bersyair lagi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keesokan harinya, setelah selesai sholat dhuhur, musafir itu memperhatikan Hamdun yang sedang nyenyak dalam tidurnya. dan iapun bergegas pergi menuju hutan yang dimaksud Hamdun semalam. ia mencari-cari dimana Hamdun berada. musafir itu sempat terkejut ketika mendapati Hamdun sedang melaksanakan sholat dhuhur di bawah teduhnya sebuah pohon tinggi. ia menunggu hingga selesainya Hamdun melaksanakan sholat.

Setelah salam dan berdo'a, Hamdun mendekati musafir yang sejak tadi dalam kebingungan. "wahai Hamdun, aku tidak mengerti apa yang sedang engkau lakukan. aku dapati tubuhmu terbaring dalam tidur yang nyenyak di depan masjid. dan aku disini mendapati pula engkau yang bertubuh melaksanakan sholat. padahal engkau katakan semalam bahwa engkau pergi kesini dengan memakai tubuh kekasihmu", jelasnya masih belum sadar dari kebingungannya.

"wahai anak muda, apakah engkau ragu akan kekuasaan Allah?", tanya Hamdun. musafir itu menggelengkan kepada.

"Allah berkuasa pada semua orang pilihanNya. tiada mustahil segala apa yang Dia perbuat. mata yang engkau punyai itu adalah mata kasar. bila engkau mempunyai mata halus niscaya engkau tiada mendapati aku disana. itu hanyalah bayanganku saja. dan tubuh asliku yang sebenarnya ada disini, berada dihadapanmu. mengapa pula aku katakan aku memakai tubuh kekasihku? karena bila engkau melihat pada awal kejadian, bahwa sebenarnya tubuh ini hanya mendindingi kenyataan sebenarnya. dinding itu akan hilang bila engkau telah menyerahkan segalanya pada Allah. bila engkau tiada melihat dinding itu, maka engkau telah memakai pakaian sebenarnya yaitu pakaian ruh. tetapi aku tidak bisa menjelaskannya padamu tentang segala sesuatu mengenai ruh. karena ruh itu adalah urusan Allah. mereka yang tidak mengerti akan menghalalkan darahku", jelasnya.

"aku sedikit paham apa-apa yang telah engkau jelaskan, wahai Hamdun",
kata musafir itu.

"sekarang lihatlah apa yang ada dibalik jubahku ini", kata Hamdun sambil memperlihatkan sesuatu di balik jubahnya. cahaya terang memancar dari dadanya dan menyilaukan mata musafir itu.
karena terkejut dan takjubnya akan terangnya cahaya itu, iapun pingsan.

Tak berapa lama, ia sadar dari pingsan dan tidak mendapati lagi Hamdun disana. iapun berlari untuk menemui Hamdun yang sedang terbaring nyenyak di depan masjid. sesampainya disana, ia membuka selimut yang menutupi tubuh Hamdun. betapa terkejutnya lagi ia karena dibalik selimut itu hanya didapati tumpukan-tumpukan batu. "Masya Allah...Maha Suci Engkau, Ya Allah....", panjatnya dalam keheranan.

"Ya Allah, siapakah Hamdun ini sebenarnya? siapakah orang yang misterius ini? siapakah seorang penyair gila ini?", do'anya dalam hati. iapun pergi dengan membawa bermacam kebingungan. dan selalu memohon petunjuk pada Allah siapa sebenarnya orang gila yang ia temui itu.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah, (QS 36:2)

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (QS 36:9)
Label: , |
Simson Ade Suseno

Musailamah Al Kadzb adalah seorang nabi palsu. Ia mendakwahkan dirinya jadi nabi. Ia berusaha untuk menandingi Al Qur’an, padahal mustahil bagi manusia dapat membuat susunan yang serupa dengan Al Qur’an yang dapat menandinginya. Keindahan susunan dan gaya bahasanya serta isinya tidak ada tara bandingannya. Al Qur’an adalah mukjizat yang terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Di dalam Al Qur’an sendiri memang terdapat ayat-ayat yang menantang setiap orang dan mengatakan: kendatipun berkumpul jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengan Al Qur’an, mereka tidak akan dapat membuatnya, sebagaimana Firman Allah SWT
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk mengatakan yang serupa Al Qur’an ini, niscaya tidak mereka akan dapat membuatnya, biarpun sebagian mereka membantu sebagian (yang lain).” (QS Al Isra’ ayat 88).

Musailamah Al Kadzab nabi palsu itu membuat gubahan untuk menandingi Al Qur’an. Kata-kata Musailamah Al Kadzab yang dianggapnya dapat menandingi sebagian ayat-ayat Al Qur’an contohnya adalah:
Artinya: "Hai katak betina anak dua katak, bersihkanlah berapa banyak kamu
membersihkanya, bukan air yg kamu kotori, dan bukan orang minum yg
kamu larang."

Entah apa makna dari ayat katak ini? Kosong tanpa makna sedikitpun

"Sesungguhnya Allah telah beri nikmat kepada orang hamil, manakala
dia mengeluarkan darinya manusia yg berjalan, dari antara kulit dlm
besar dan isi perut."

Ayat ini hanya mencontek Ayat-Ayat Suci Al-Qur'an yang dimodifikasi

"Gajah, apa yg kamu ketahui tentang gajah, dia memiliki belalai yg
panjang."

Anak kecil juga tahu kalo gajah itu punya belalai

"Demi perempuan2 yg membuat adunan, demi perempuan2 yg membuat
roti, demi perempuan2 yg menelan dan menyuapi suapan ihaalah
(lemak cair) dan samin(mentega), sesungguhnya org2 quraisy adalah
kaum yg melampaui batas."

Seorang sasterawan Arab yang ternama yaitu Al Jahiz memberikan penilaian gubahan Musailamah Al Kadzab ini dalam bukunya yang bernama “ Al Hayawan “ sebagai berikut: Saya tidak mngerti apakah gerangan yang menggerakkan jiwa Musailamah menyebut katak (kodok) dan sebagainya itu, Alangkah kotornya gubahan yang dikatakannya sebagai ayat Al Qur’an itu kepadanya sebagai wahyu.”

Musailamah Al Kadzab menemui kegagalan dalam menandingi Al Qur’an. Ia bahkanmendapat cemoohan dan hinaan dari masyarakat.

Musailamah Al Kadzab yang mengaku sebagai nabi ini akhirnya ditumpas maka terjadilah pertempuran Yamamah pada tahun 12 Hijriyah, yaitu pertempuran antara pasukan Islam yang dipimpin oleh Kalid abi Walid melawan pasukan Musailamah Al Kadzab. Dengan pertempuran ini pasukan Islam dapat menumpas pasukan Musailamah Al Kadzab. Akhirnya Musailamah Al Kadzab berhasil dibunuh oleh Wahsyi.

Label: , , , |
Simson Ade Suseno

DALAM akidah Islam, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) adalah penutup para nabi. Ini sesuai dengan firman-Nya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Ahzab [33]: 40). Sementara Islam, ajaran yang dibawa Muhammad SAW merupakan dien yang telah disempurnakan.

Namun, masih ada saja manusia yang mengaku sebagai nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) setelah Muhammad SAW untuk menyempurnakan ajaran-Nya. Bahkan, sebelum Muhammad SAW wafat pun sudah ada yang mengaku sebagai nabi. Jumlah mereka banyak. Berikut di antara para nabi palsu itu.

1.     Musailamah al-Kazzab dan Sajjah Binti al-Harits

Musailamah mengaku nabi saat Rasulullah SAW masih hidup. Ia dari Bani Hanifah di Yamamah. Istrinya, Sajjah binti al-Harits dari Bani Tamim, juga mengaku sebagai nabi yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk disampaikan kepada umat.

Dalam riwayat, saat mempersunting Sajjah, Musailamah memberikan mas kawin berupa cuti shalat Ashar kepada keluarga Sajjah. Tentu saja saat itu seluruh Bani Tamim libur shalat Ashar.

Setelah Rasulullah SAW wafat, mereka semakin leluasa dalam menyebarkan pemahamannya. Khalifah Abu Bakar Assidiq tidak tinggal diam. Abu Bakar beserta kaum Muslimin mengajak mereka dan pengikutnya kembali ke jalan yang lurus. Tapi, ajakan itu ditolak.

Abu Bakar mengerahkan kaum Muslimin untuk memerangi mereka. Dalam perang Yarmuk, Kaum Muslimin bentrok dengan pasukan Musailamah dan Musailamah berhasil dibunuh oleh Wahsyi bin Harb. Sedang Sajjah diakhir hayatnya bertaubat dan kembali ke pelukan Islam.

2.     Aswad al-‘Ansi
Nama sebenarnya ‘Ailat bin Ka’ab bin ‘Auff Al-‘Ansi. Ia keturunan Bangsa Habasyah yang tinggal di Jazirah Arab. Ia berkulit hitam, itu sebabnya ia dipanggil Aswad. Aswad mumpuni dalam dunia perdukunan serta mahir melakukan sihir.

Aswad mengaku nabi saat Rasulullah SAW menjelang jatuh sakit. Ia dikenal sebagai yang fasih lisannya. Ia mampu memutarbalikan kebatilan menjadi kebajikan. Banyak orang awam yang menjadi pengikutnya.

Ajaran Aswad berhasil tersebar di Yaman. Ia mengaku bahwa malaikat telah memberikan wahyu dan memberitakan hal-hal gaib kepadanya. Namun Aswad berhasil dibunuh oleh kaum Muslimin menjelang Rasulullah SAW wafat.

3.     Mirza Ghulam Ahmad
Mirza Ghulam Ahmad lahir 15 Februari 1835 di Qadian, wilayah Punjab, sebelah utara India . Ia berasal dari keluarga Muslim. Namun, keluarganya itu dikenal suka berkhianat kepada agama dan negaranya.

Saat kolonial Inggris menduduki India , Mirza salah seorang yang loyal dan taat terhadap penjajah. Sementara umat Islam India berjibaku mengusir penjajah. Sikap Mirza yang pro penjajah ini, dimanfaatkan Inggris untuk membuat gerakan. Tahun 1900 berdirilah gerakan yang bernama Ahmadiyah. Mirza diangkat sebagai nabinya.

Di antara ajaran Mirza yakni meyakini bahwa Allah juga berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur, melakukan kesalahan, dan berjima’. Selain itu, bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Muhammad SAW. Dan dirinyalah adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.

Menjelang akhir hayatnya, Mirza didera penyakit. Menurut Hasan bin Mahmud Audah, orang kepercayaan Mirza yang sudah kembali ke Islam, ia meninggal di tempat tidur. Berminggu-minggu sebelum matinya ia buang air kecil dan besar di situ.

4.     Mirza ‘Ali Muhammad Ridha Asy-Syairazi
Mirza ‘Ali adalah orang Yahudi yang menyamar sebagai Muslim. Ia tinggal di Iran. Ia berbaur di kalangan Syi’ah Imamiyah. Pada tahun 1844 Mirza Ali memproklamirkan diri sebagai nabi. Ia mengaku sebagai, “Albab”, yang berarti pintu. Yaitu pintu bagi kaum Syi’ah atau seluruh umat Islam yang akan menyatukan mereka bersama imam yang ditunggu kedatangannya di akhir zaman. Ia juga mengaku sebagai jelmaan Tuhan. Ia penggagas ajaran Bahaiyah.

Ajaran Mirza ‘Ali yang paling populer adalah menyatukan agama. Ia mengajak umat manusia untuk keluar dari semua agama yang dianut dan membentuk satu agama. Menurutnya, ketiga agama yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen adalah benar dan semuanya datang dari Allah. Selain itu ajaran Mirza Ali juga mengharamkan jihad.

Berkat aksinya itu, pada tahun 1850 Mirza divonis mati oleh pemerintah Iran yang saat itu dipimpin Shah Tibriz. Sementara, para pengikutnya melarikan diri ke Turki dan Palestina.

5.     Thulaihah bin Khuwailid
Thulaihah adalah seorang dukun. Ia sangat disegani oleh kaumnya. Ketika Rasulullah SAW wafat, ia mengaku sebagi nabi yang menggantikan Muhammad SAW. Ia ciptakan ajaran baru. Menurutnya, manusia tak pantas sujud pada setiap shalat.  “Kepala dan wajah diciptakan oleh Tuhan bukan untuk dihinakan dengan mencium bumi lima kali sehari semalam.” Ia pun menghapuskan kewajiban membayar zakat bagi orang kaya.

Ia pernah menghadap Abu Bakar As Shiddiq di Madinah. Ia meminta Abu Bakar mengakui kedudukannya sebagai nabi baru dan hidup bersama berdampingan. Permintaan itu ditolak dengan tegas. Saat itu juga Abu Bakar memberi instruksi kepada para sahabat untuk memeranginya. Akhirnya, terjadi peperangan antara pengikut Thulaihah dengan kaum Muslimin. Pengikut Thulaihah berhasil ditaklukan.

6.     Ahmad Moshaddeq
Nama aslinya Abdussalam. Ia penggagas aliran al-Qiyadah al-Islamiyah. Moshaddeq mengaku sebagai nabi setelah melakukan meditasi di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat selama 40 hari 40 malam. Puncaknya, pada malam ke 40, tepatnya 23 Juli 2006, Moshaddeq mengklaim mendapat wahyu dari Allah SWT.

Ajaran yang dibawa Moshaddeq ini dianggap sesat oleh MUI. Di antara kesesatan itu adalah shalat lima waktu dalam sehari diganti menjadi satu waktu, yakni shalat malam. Syahadat Muhammadurrasulullah diganti al-Masih al-Maw’ud rasulullah.

Sebelumnya Moshaddeq tercatat sebagai karyawan di Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta. Ia juga sempat menjadi pelatih nasional bulutangkis. * 

Sumber : Suara Hidayatullah
Rep: Ibnu Syafaat
Red: Cholis Akbar
Label: , , , |