Arti Sebuah Perjalanan
Kisah Tertumpah Dalam Pekat Nestapa Mengalir Membasuh Luka.
Selasa, 08 Mei 2012
SYAJAROTUL IMAN ( POHON KEIMANAN ) TAFSIR SURAT IBRAHIM : 24-25
Bola Salju
Cintaku kepadamu bagaikan bola salju
Bergulir-gulir semakin kencang
Rinduku kepadamu bagaikan bola salju
Waktu ke waktu kian membesar
* dimanapun kau berlari
Takkan ku lelah mengejarmu
Dan walau pun kau menghindar
Takkan ku bosan untuk bersabar
Reff:
Aku lelaki sejati, cintaku tak akan mati
Aku lelaki perkasa, cintaku tak kenal dusta
Cintaku kepadamu bagaikan bola salju
Cintaku kepadamu sesuci bola salju
Repeat *
Selasa, 03 April 2012
Pandangan islam terhadap perayaan ulang tahun
Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Perayaan ulang tahun atas kelahiran seseorang atau suatu organisasi tertentu tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Karena itu bila dilakukan, tidak bernilai ibadah.
Cukup banyak ulama tidak menyetujui perayaan ulang tahun yang diadakan tiap tahun. Tentu mereka datang dengan dalil dan hujjah yang kuat. Di antara alasan penolakan mereka terhadap perayaan ulang tahun antara lain:
1. Ulang tahun bila sampai menjadi keharusan untuk dirayakan dianggap sebuah bid’ah. Sebab Rasulullah SAW belum pernah memerintahkannya, bahkan meski sekedar mengisyaratkannya pun tidak pernah. Sehingga bila seorang muslim sampai merasa bahwa perayaan hari ulang tahun itu sebagai sebuah kewajiban, masuklah dia dalam kategori pembuat bid’ah.
2. Ulang tahun adalah produk Barat/ non muslim
Selain itu, kita tahu persis bahwa perayaan uang tahun itu diimpor begitu saja dari barat yang nota bene bukan beragama Islam. Sedangkan sebagai muslim, sebenarnya kita punya kedudukan yang jauh lebih tinggi. Bukan pada tempatnya sebagai bangsa muslim, malah mengekor Barat dalam masalah tata kehidupan.
Seolah pola hidup dan kebiasaan orang Barat itu mau tidak mau harus dikerjakan oleh kita yang muslim ini. Kalau sampai demikian, sebenarnya jiwa kita ini sudah terjajah tanpa kita sadari. Buktinya, life style mereka sampai mendarah daging di otak kita, sampai-sampai banyak di antara kita mereka kurang sreg kalau pada hari ulang tahun anaknya tidak merayakannya. Meski hanya sekedar dengan ucapan selamat ulang tahun.
3. Apakah Manfaat Merayakan Ulang Tahun?
Selain itu perlu juga kita renungkan sebagai muslim, apakah tujuan dan manfaat sebenarnya bisa kitadapat dari perayaan ini? Adakah nilai-nilai positif di dalamnya? Ataukah sekedar meneruskan sebuah tradisi yang tidak ada landasannya? Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang?
Pertanyaan berikutnya,adakah sesuatu yang menambah iman, ilmu atau amal? Atau menambah manfaat baik pribadi, sosial atau lainnya? Pertanyaan berikutnya dan ini akan menjadi sangat penting, adakah dalam pelaksanaan acara seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar?
Yang terkahir namun tetap penting, bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan acara seperti itu menjadi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini ‘harus’ dilakukan? Hal ini seperti yang terjadi pada upacara peringat hari besar Islam baik itu kelahiran, isra` mi`raj dan sebagainya.
Jangan sampai dikemudian hari, lahir generasi yang menganggap perayaan ulang tahun adalah ‘sesuatu’ yang harus terlaksana. Bila memang demikian, bukankah kita telah kehilangan makna?
Kalau menimbang-nimbang pernyataan di atas, ada baiknya kita yang sudah terlanjur merayakan ulang tahun buat anak atau bahkan untuk diri kita sendiri melakukan evaluasi besar.
Sebaliknya, mungkin ada baiknya pemikiran yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Al-Qradawi tentang ulang tahun untuk anak. Misalnya, pada saat anak itu berusia 7 tahun, tidak ada salahnya kita ajak dia untuk menyampaikan pesan-pesan dalam acara khusus tentang keadaannya yang kini menginjak usia 7 tahun. Di mana Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada para orang tua untuk menyuruh anaknya shalat di usia itu.
Bolehlah dibuat acara khusus untuk penyampaian pesan ini, agar terasa ada kesan tertentu di dalam diri si anak. Bahwa sejak hari itu, dirinya telah mendapatkan sebuah tugas resmi, yaitu diperintahkan untuk shalat.
Nanti di usia 10 tahun, hal yang sama boleh dilakukan lagi, yaitu sebagaimana perintah Rasulullah SAW untuk menambah atau menguatkan lagi perintah shalat. Kali ini dengan ancaman pukulan bila masih saja malas melakukan shalat. Bolehlah diadakan suatu acara khusus di mana inti acaranya menetapkan bahwa si anak hari ini sudah berusia 10 tahun, di mana Rasulullah SAW membolehkan orang tua memukul anaknya bila tidak mau shalat.
Kira-kira usia 15 tahun lebih kurangnya, ketika anak pertama kali baligh, boleh juga diadakan acara lagi. Kali ini orang tua menegaskan bahwa anak sudah termasuk mukallaf, sehingga semua hitungan amalnya baik dan buruk sejak hari itu akan mulai dicatat. Bolehlah pada hari itu orang tua membuat acara khusus yang intinya menyampaikan pesan-pesan ini.
Jadi bukan tiap tahun bikin pesta undang teman-teman, lalu tiup lilin, potong kue, bernyanyi-nyanyi, memberi kado. Pola seperti ini sama sekali tidak diajarkan di dalam agama kita dan cenderung tidak ada manfaatnya, bahkan kalau mau jujur, justru merupakan cerminan dari sebuah mentalitas bangsa terjajah yang rela mengekor pada tradisi bangsa lain.
Bukankah Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari padanya? Lalu mengapa kita bangsa Islam ini harus mengekor pada tradisi bangsa lain yang jauh lebih rendah?
Mungkin jawabannya yang paling jujur adalah…istafti qalbak….
Mintalah fawa kepada hati nuranimu…
Wssalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Sabtu, 31 Maret 2012
Batasan Diantara Laki-Laki dan Perempuan
Jumat, 02 Maret 2012
Jilbab sebuah Hijab atau hanya Aksesoris
Jilbab sebuah hijab atau hanya aksesoris merupakan realita yang kita lihat disekitar kita . Banyak orang beranggapan sebuah jilbab adalah sebuah keharusan dan kewajiban , memang betul tapi caranya yang membedakan kesungguhan menggunakan jilbab.Beberapa orang memandang Jilbab hanya sebagai aksesoris semata , dan tidak memaknai arti dari jilbab itu sendiri . Maka dari itu pada tulisan ini saya memaparkan 5 kasus yang seringkali kita lihat , semoga menjadi introspeksi bagi kaum wanita yang masih melakukan hal tersebut.
Kasus I : Memakai jilbab tapi anggota tubuh lain terbuka dan mengundang hawa nafsu
Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini dengan jilbabnya, terangkat ke atas hingga memperlihatkan bagian tubuhnya.
Na’udzubillahi min dzalik, jika contoh yang dilukiskan itu sudah menjadi gambaran dari muslimah-muslimah sekarang ini. Niatnya memang baik, menutup aurat yang sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslimah. Hanya saja, seringkali aurat yang ditutup tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dituntunkan oleh Islam.
Lihatlah, betapa banyak perempuan-perempuan yang mengaku beragama Islam, mengenakan jilbab, tetapi masih mempertontonkan bentuk lekuk tubuhnya [memakai celana jean's atau legging]. Salah bergerak sedikit, bagian tubuhnya bisa kelihatan. Mininya jilbab yang dikenakan seringkali malah membuat rambutnya yang panjang menjuntai keluar.
Kasus II : Penggunaan kerudung , harus disesuaikan dengan konteks berpakaian .
Ketika para ibu yang menghadiri walimahan mengenakan jilbab, namun lengan kebayanya masih transparan. Usai walimahan, biasanya mereka menanggalkan jilbab seolah-olah jilbab hanyalah sebagai asesoris untuk walimahan saja.
Kasus III : Jilbab hanya digunakan untuk gaya - gayaan saja.
Sama halnya dengan para siswi atau mahasiswi yang sekolah atau kuliah di sekolah atau universitas Islam yang mewajibkan untuk mengenakan jilbab, mau tidak mau mereka harus mengenakan jilbab ketika berada di lingkungan sekolah atau kampus. Di luar itu, mereka dengan mudahnya tanpa beban membiarkan rambutnya tidak tertutup oleh jilbab.
Bahkan, ada juga sebagian mengenakan jilbab hanya karena merasa lebih cantik jika berjilbab. Rambutnya yang kurang bagus untuk diperlihatkan, terpaksa harus ditutupi. Jilbab modis yang dikenakan bisa mengalihkan penampilannya, hingga ia terlihat lebih mempesona dengan berjilbab.
Kasus IV : Kerudung gaul ?! Ikut trend atau untuk hijab
Fenomena kerudung gaul atau jilbab cekek adalah fenomena yang sangat membingungkan bagi setiap muslim atau muslimah yang memahami ajaran Islam dengan benar. Ini mengingat, seorang perempuan atau wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul, dalam benaknya dia ingin menutup aurat, namun juga ingin tampil pamer modis dan cantik.
Beberapa gelintir perempuan berkomentar, “Lho, masih mending memakai kerudung atau jilbab gaul, daripada tidak sama sekali?!” Yang lainnya menyatakan, “Ini kan masih belajar untuk menutup aurat.” Ya, kerudung gaul selalu dianggap lebih baik daripada tidak menutup aurat sama sekali. Atau juga dianggap sebagai sebuah proses belajar menutup aurat. Pernyataan-pernyataan tersebut sekilas tampak benar, namun sejatinya sungguh keliru. Karena seorang muslim diharuskan untuk menjalani setiap perintah syariat secara total atau kaffah.
Bagi para muslimah yang memahami benar ketentuan jilbab sesuai perintah teks Al-Qur‘an dan hadits, mengenakan kerudung gaul tak ubahnya melecehkan syariat Islam dan sebagai bentuk penyaluran selera pribadinya semata. “Maksudnya pengen mengenakan simbol islami, tapi juga nggak mau meninggalkan mode yang sedang booming saat ini.
Kasus V : Memakai jilbab dan pakaian Islami tidak menarik perhatian
Bahkan lucunya, kini semacam ada pandangan yang menyatakan bahwa perempuan yang memilih untuk berjilbab panjang dan mengenakan gamis rapih, maka mereka akan kehilangan respek dari kaum lelaki. Padahal, ditilik dari sudut pandang Islam, perempuan dewasa yang tidak menutup aurat, justru merekalah yang akan kehilangan respek dari setiap muslim dan muslimah, dan kehilangan respek dari Allah tentunya
Padahal, jilbab yang dikehendaki syariat bermakna milhâfah, berarti baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis, atau kain (kisaa‘) apa saja yang dapat menutupi, atau pakaian (tsaub) yang dapat menutupi seluruh bagian tubuh. Di dalam kamus Al-Muhith dinyatakan bahwa ilbab itu laksanasirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian yang longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutupi pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.
Dalam kamus Ash-Shahhah, Al-Jauhari menyatakan, “Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebutmula’ah (baju kurung). Makna jilbab seperti inilah yang diinginkan Allah ketika berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)
Para ulama pakar tafsir pun sepakat, jilbab syar’i bermakna sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. Hal ini membuat seorang muslimah tampak elegan, santun, bermartabat, dan tentunya berkepribadian islami.
Kesimpulan dan Renungan
Apakah makna jilbab bagi para wanita muslimah sebatas hanya perhiasan semata ?! Amat sangat disayangkan jika jilbab hanya diartikan sebagai asesoris semata.
Pernahkah kita berpikir mengapa begitu banyak perempuan dan wanita muslim yang mengenakan ‘jilbab’, namun berpakaian sangat ‘provokatif,’ misalnya menampakkan lekuk-lekuk kemolekan tubuhnya? Fungsi jilbab yang semestinya diarahkan untuk menutupi aurat, seperti dada dan pinggul, justru malah diabaikan.
Sejatinya, penutup kepala seperti itu bukanlah jilbab dalam perspektif hijab yang disyariatkan Islam. Orang-orang lebih menyebutnya dengan “kerudung gaul”. Atau diistilahkan Milasari Astuti –dalam artikelnya di sebuah situs Islam— dengan istilah “jilbab cekek”, karena memang benar-benar hanya sebatasnyekek leher.
Maksudnya, seorang perempuan muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis, transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Semisal, kepala dibalut kerudung atau jilbab, namun berbaju atau kaos ketat, bercelanajean atau legging yang full pressed body, dan lain sebagainya.
Ketika ditanya mengenai sabda Nabi: “Berpakaian tapi telanjang”, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjawab, “Yakni wanita-wanita tersebut memakai pakaian, akan tetapi pakaian mereka tidak tertutup rapat (menutup seluruh tubuhnya atau auratnya).”
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun(berpakaian namun telanjang) adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Lihat:Jilbab Al-Mar‘ah Muslimah, 125-126)
Hal senada juga dikatakan oleh Ibnul Jauzi yang berpendapat bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna. Pertama,wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang. Kedua, wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang. Ketiga wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya.
Pada intinya wanita berpakaian telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya, atau memakai pakaian ketat, sehingga terlihat lekuk tubuhnya, dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.
Semoga tulisan ini memberikan pencerahan bagi kaum wanita yang kini terjebak dengan hal - hal yang sebenarnya adalah esensi dari jilbab tersebut .
Sumber : Gudang Ilmu
http://ilmu.gudangmateri.com/2011/04/jilbab-sebuah-hijab-atau-hanya.html
Senin, 27 Februari 2012
Kau hadir dalam mimpiku
Minggu, 26 Februari 2012
Tujuan utama dari akuntansi untuk persediaan

Di bawah sistem akuntansi, laporan keuangan harus sepenuhnya diartikulasikan (yaitu, laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi dihubungkan bersama secara mekanis).
Dan, untuk mencapai tujuan, account akan perlu untuk merekam setiap peristiwa-terkait tunggal untuk persediaan, dalam hal ini-sepanjang siklus persediaan: Bahan baku diterima, bahan baku pindah ke garis produksi, barang jadi pindah ke gudang barang jadi , keusangan, dicuri, dan barang jadi terjual habis atau dipindahkan ke gudang lain.
Jadi di sini kita pergi dengan entri jurnal ...
Bahan Baku Persediaan
1. Menerima bahan baku - Ketika bahan baku diterima berarti persediaan bahan baku meningkat juga. Jadi, setelah menghitung dan mencocokkan dengan jumlah pesanan pembelian, Anda akan merekam "Penerimaan Barang" entri, sebagai berikut:
[Debit]. Inventarisasi-Bahan Baku = xxx
[Kredit]. Hutang = xxx
(Catatan: xxx adalah jumlah kuantitas aktual yang diterima Anda dapat mengganti 'hutang' dengan 'uang' jika itu adalah transaksi tunai.).
2. Pindah bahan baku untuk lini produksi - Ketika bahan baku keluar dari gudang-biasanya dengan garis produksi, berarti bahan baku menurun. Di sisi lain, menggeser bahan baku untuk bentuk baru dari persediaan yang akan berlokasi di garis produksi, yang disebut "WIP-Work Dalam Persediaan Proses". Jadi untuk acara ini, Anda akan membuat catatan berikut:
[Debit]. WIP-Work Dalam Persediaan Proses = xxx
[Kredit]. Inventarisasi-Bahan Baku = xxx
3. Mengatur persediaan bahan baku - Beberapa bahan mungkin rusak / usang, beberapa mungkin kehilangan (dicuri) waktu demi waktu. Risiko tersebut tidak dapat dihindari. Mengacu pada prinsip konservatisme, Anda akan perlu untuk membuat cadangan untuk risiko tersebut. Melestarikan dalam hal ini berarti Anda pengisian biaya di muka. Jadi untuk mempersiapkan itu, Anda akan perlu untuk membuat akun cadangan, atau Anda mungkin ingin membuat beberapa laporan rincian lebih lanjut dan cara yang lebih mudah untuk menelusuri di masa depan. Berikut adalah entri jurnal Anda akan perlu untuk membuat:
Untuk bahan baku usang:
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Usang Bahan Baku Cadangan = xxx
Untuk bahan baku dicuri:
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Dicuri Bahan Baku Cadangan = xxx
ATAU; membuat cadangan tunggal:
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Cadangan Bahan Baku = xxx
Jadi, ketika usang aktual atau kerugian (karena dicuri) yang terjadi, Anda akan membuat sebuah entri penyesuaian sebagai berikut:
[Debit]. Cadangan Bahan Baku = xxx
[Kredit]. Persediaan Bahan Baku = xxx
Kasus yang sama dapat terjadi pada Kerja WIP-In Inventarisasi Proses. Dan, langkah yang sama diperlukan untuk mencerminkan dalam buku ini, kecuali bahwa Anda harus mengganti "Bahan Baku" dengan "WIP-Work In Process".
Dalam setiap proses manufaktur, limbah yang tak terelakkan. Dan, Anda akan perlu untuk mencerminkan kerugian dalam buku dengan membuat jurnal berikut dalam periode berjalan:
[Debit]. Harga pokok penjualan = xxx
[Kredit]. WIP-Work Dalam Persediaan Proses = xxx
Persediaan Barang Jadi
1. Barang Jadi Persediaan Diterima - persediaan barang jadi dapat datang dari dalam garis-perusahaan produksi (saat itu adalah perusahaan manufaktur), atau dari luar perusahaan-barang jadi dibeli (ketika itu adalah perusahaan / perdagangan eceran). Di mana pun asalnya, persediaan barang jadi meningkat dan harus tercermin dalam buku ini. Jadi, Anda akan membuat entri berikut:
Barang jadi berasal dari garis produksi:
[Debit]. Barang Jadi Persediaan = xxx
[Kredit]. WIP-Work Dalam Persediaan Proses = xxx
Barang jadi berasal dari luar perusahaan (barang jadi dibeli):
[Debit]. Barang Jadi Persediaan = xxx
[Kredit]. Hutang = xxx
(Catatan: xxx adalah jumlah kuantitas aktual yang diterima Anda dapat mengganti 'hutang' dengan 'uang' jika itu adalah transaksi tunai.).
2. Barang Jadi Dikirimkan Out - Ada dua kemungkinan alasan untuk pengiriman keluar persediaan barang jadi: dijual atau dipindahkan ke lokasi gudang lainnya. Entah itu dikirim ke pelanggan (dijual) atau pindah ke lokasi gudang lainnya, pasti akan mengurangi persediaan barang jadi dan harus tercermin pada buku. Jadi, berikut adalah entri jurnal Anda perlu membuat:
Persediaan Barang jadi dijual:
[Debit]. Piutang = xxxx
[Kredit]. Penjualan = xxx
[Kredit]. Penjualan Hutang Pajak = x
(Catatan:. Hal ini untuk mencatat penjualan dan pajak penjualan 'xxxx' adalah jumlah penjualan ditambah pajak penjualan, 'xxx' merupakan jumlah penjualan saja, 'x' adalah jumlah pajak penjualan)
DAN;
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Barang Jadi Persediaan = xxx
(Catatan:. Ini adalah mencatat penurunan barang jadi 'xxx adalah jumlah biaya)
3. Barang Jadi Persediaan Penyesuaian - Barang persediaan bisa menjadi usang atau dicuri, dan antisipasi risiko, Anda akan perlu untuk cadangan. Untuk melakukan itu, Anda perlu membuat entri berikut:
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Barang selesai Cadangan = xxx
Jadi, ketika usang aktual atau kerugian (karena dicuri) yang terjadi, Anda akan membuat sebuah entri penyesuaian sebagai berikut:
[Debit]. Barang selesai Cadangan = xxx
[Kredit]. Barang Jadi Persediaan = xxx
Seperti apa yang Anda lakukan pada persediaan bahan baku, Anda mungkin ingin memisahkan 'usang' dengan 'dicuri' juga untuk memudahkan kendali dan analisis di waktu mendatang.
Penghitungan Fisik Persediaan Penyesuaian
Akuntansi untuk persediaan dilakukan di bawah baik periodik atau sistem perpetual. Dalam sistem persediaan periodik, kuantitas persediaan ditentukan secara berkala oleh perhitungan fisik. Jumlah sehingga ditentukan kemudian harga sesuai dengan metode biaya yang digunakan. Harga pokok penjualan dihitung dengan menambahkan persediaan awal dan pembelian bersih (atau harga pokok produksi) dan mengurangkan persediaan akhir.
Atau, sistem persediaan perpetual terus berjalan total kuantitas (dan mungkin biaya) dari persediaan di tangan dengan mencatat semua penjualan dan pembelian yang terjadi. Ketika persediaan dibeli, akun persediaan (bukan pembelian) didebit. Ketika persediaan dijual, biaya pokok penjualan dan pengurangan persediaan dicatat.
Jumlah fisik periodik penting, namun-setidaknya untuk memenuhi peraturan pajak (peraturan pajak mengharuskan pemeriksaan persediaan fisik harus dilakukan, setidaknya setiap tahun). Kemungkinan besar, Anda akan menemukan variasi-sebenarnya kuantitas vs kuantitas yang direkam. Dan, Anda akan perlu untuk membuat kedua sangat cocok, berarti Anda akan perlu untuk menyesuaikan rekor baik atas atau bawah.
Entri berikut mengasumsikan bahwa terdapat kenaikan saldo persediaan:
[Debit]. Bahan baku persediaan = xxx
[Debit]. Kerja-di-proses persediaan = xxx
[Debit]. Barang jadi persediaan = xxx
[Kredit]. Harga pokok penjualan = xxx
(Catatan: Jika ada penurunan saldo persediaan, maka debit dan kredit dibalik.)
Penyesuaian Persediaan Entri Spesifik
Seperti saya uraikan dalam kata pengantar dari posting ini: pertama, HPP dan biaya lainnya dalam Laporan Laba Rugi harus terkait erat dengan 'di tangan' saldo persediaan pada Neraca yang harus mewakili nilai riil dari aset yang sebenarnya. Namun, untuk beberapa alasan, kadang-kadang, Anda mungkin menemukan nilai persediaan Anda telah direkam menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar. Untuk mencapai tujuan, Anda perlu membuat entri penyesuaian berikut:
[Debit]. Kerugian Penilaian Persediaan = xxx
[Kredit]. Persediaan Bahan Baku = xxx
[Kredit]. WIP-Work Dalam Persediaan Proses = xxx
[Kredit]. Barang Jadi Persediaan = xxx
| Reaksi: |
Janji Iblis dijelaskan dalam surat Al-Hijr ayat 39-40

Sabtu, 25 Februari 2012
Muslimah Cantik,Menjadikan Malu Sebagai Mahkota Kemuliaannya
| Reaksi: |